Posts

What a day!

Bild
Satu hal yang selalu aku dapatkan tanpa perlu meminta adalah kehadiran orang-orang terdekat. Entah keluarga, teman terdekat, semuaaanyaa! Semakin direnungi semakin membuatku bersyukur berkali-kali lipat. Yah, tanpa perlu dimention, u guys knew who u are ! Satu hal yang baruuu aja (pake penekanan ya baru nya, wkwk) adalah kehadiran Kira sekeluarga di hidupku. Aku tidak pernah menyangka akan segini besar dampaknya. Aku juga tidak berekspektasi apapun kecuali hubungan yang normal selayaknya hubungan kerja. Namun karena dasarnya mereka semua orang yang super baik dan intensitas pertemuan kami dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi membuat setiap hal terasa manis. Bagaimana mereka memperlakukan manusia lain bener-bener manusiawi banget! Ntar deh ya aku cerita khusus tentang mereka. Sekarang aku mau cerita dulu tentang bagaimana aku menghabiskan hari ulang tahunku bersama keluarga ini.  Sebetulnya bagiku hari ulang tahun itu hari di mana aku mesti mengucap syukur 100 kali lebih ba

Sebelum akhirnya di sini

Bild
Perjalanan ini dimulai lebih cepat dari yang seharusnya. Aku ingat betul bagaimana bingung dan amburadulnya aku di malam hari tanggal 15 Desember 2020. Mengantongi surat hasil rapid tes aku niatkan untuk reschedule tiket penerbangan ke Bali yang semula 21 Desember menjadi 16 Desember. Tidak tahu nanti bagaimana 5 hari di sana, akan tinggal di mana dan makan apa. Semua kosong. Aku tahu aku tidak bisa bergantung pada siapapun, malam itu kuputuskan dan kuputuskan sendiri. Syukur Alhamdulillah semua dilancarkan. Kutenangkan juga orang tua yang khawatir tentang anaknya nanti di kota orang di tengah wabah pandemi sendirian, yang hanya mengantongi beberapa ratus ribu saja. Malam itu, ku kemasi semua barang-barangku sendirian sambil ditemani ibu dan ayah yang juga sibuk mengemasi jamu, obat-obatan, dan segala perintilan kesehatan, yang tentunya sering aku abaikan. Situasi itu benar-benar bukan situasi yang aku inginkan. Besok paginya aku bangun dengan semua barang yang sudah siap. Satu kop

“Dear Diary…”

  Dear Diary… Hari ini hari Senin, aku harus pergi ke sekolah. Tapi aku malas berangkat sekolah, pasti nanti Rama dan teman-temannya menggodaku lagi. Aku benci sama mereka. Aku gak tau apa yang membuat mereka suka sekali mengerjaiku. Minggu lalu saat hari Jumat, mereka dengan sengaja menempelkan permen karet bekas di rokku. Aku ingin melawan, tapi aku selalu tidak berani ketika mereka ada di depanku L …. “Mikhaaaa tolong beliin bawang goreng di warung Bu Kosim, yaa!” Suara Mama tiba-tiba terdengar dari dapur. Cukup nyaring karena Mikha tak pernah menutup pintu kamarnya, bahkan ketika sedang belajar atau menulis. “Iyaaaa Maaaa…” Jawab Mikha tak kalah kencangnya.   ….eh Mama manggil tuh, nanti aku cerita lagi, ya..   Dengan cepat ia tutup diary kesayangannya. Diary warna kuning bermotif pokadot pemberian sahabatnya, Naya, di ulang tahunnya ke 17. Bolpoin warna-warni selalu ia selipkan di dalamnya. Sejak kepindahannya ke kota ini, Mikha tak punya teman sama sekali. Terpisa

Rahasia

Gerimis sore ini menjadi pertanda dimulainya musim hujan tahun ini. Suara gemericik air jatuh dari paralon depan rumah terdengar jelas di telinga Arini. Ia duduk di kursi tamu tak jauh dari teras rumah. Dipegangnya sebuah mug berbentuk bola dengan teh yang tak lagi panas. Tatapannya sembilu, melihat langit di luar sana yang mendung sedari siang tadi. Ruangan 4x4 meter itu cukup gelap padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 16.30. Rupanya mendung di luar membuat ruang tamu ini ikutan gelap. Arini lalu berjalan ke sisi kiri tempat duduknya. Menekan saklar lampu agar ruangan itu kembali terang. Ia kembali duduk namun di kursi yang berbeda. Meninggalkan mug di sisi meja kaca di samping tempat duduknya tadi. Sambil menikmati suara hujan, ia raih majalah yang tersusun rapi di rak bawah meja. Ia buka lembar demi lembarnya, tidak ada yang menarik hatinya namun tetap saja ia lakukan. _____ "Mamaaaa.... Aku pulanggg" "Maaa.. Mama di manaa?" Andi berlari kecil me

Sesalku

  “Selamat Malam, Ibu Sinta. Ini kuncinya, kamar 202 berada di ujung barat. Pagawai kami akan mengantar Ibu. Ada yang bisa kami bantu lagi, Ibu?” “……” “Ada yang bisa dibantu lagi, Ibu Sinta?” “Ah..Eh.. Enggak mbak, makasih, ya.” Sambil berjalan menuju kamar 202 Sinta masih menunjukkan wajah yang sama seperti saat di resepsionis. Lesu, tatapan kosong, dan putus asa. Ia berjalan sambil termenung, pikirannya melayang tak tentu arah. Pegawai laki-laki yang sedari tadi menjelaskan banyak hal tentang fasilitas penginapan tak ia hiraukan. Seperti pegawai hotel kebanyakan, ia cukup gagah rupawan dengan balutan batik berwarna coklat kehitaman. Ia sebetulnya tahu bahwa tamunya satu ini sedang kalut. Panjang lebar ia menjelaskan sambil sedikit berkelakar tak didengarnya satu kata pun dari perempuan ini. Namun tak berani ia tanya lebih jauh, biarlah itu menjadi rahasianya sendiri. “Sudah sampai, Ibu. Selamat beristirahat.” Tanpa jawab, Subagyo pergi begitu saja. Menjalani profesi yan